Masih ada gak keadilan?

Seorang karyawan perusahaan multinasional kecewa. Ketika ia mengundurkan diri dari perusahaan tersebut, haknya terancam tidak di bayarkan. Hal tersebut dikarenakan, karyawan itu dianggap mangkir dari perjanjian pra mengundurkan diri.

kok bisa sih? emang apa masalahnya..

begini ceritanya. diperusahaan tempat karyawan tersebut menghabiskan waktu nya untuk mengabdi ke perusahaan ada peraturan yang menyatakan, jika karyawan tersebut ingin mengundurkan diri. Waktu minimal untuk mengundurkan diri adalah satu bulan.

Mungkin peraturan ini sama di semua perusahaan. Masuk akal sih, karena waktu satu bulan itu akan digunakan oleh perusahaan untuk mencari pengganti karyawan yang mengundurkan diri dan melatih calon karyawan baru.

Semula semua berjalan lancar. Termasuk permohonan pengunduran diri karyawan itu dari perusahaan. Tanggal efektif mengundurkan diri juga sudah di tentukan. Proses seleksi karyawan pengganti juga sudah di lakukan. Namun kendala itu timbul, saat karyawan yang hendak mengundurkan diri tidak masuk selama tiga hari, akibat sakit.

Manusiawi lah, manusia kan bukan robot. Bisa juga sakit. Ketika karyawan tersebut kembali masuk kerja, untuk menyelesaikan sisa hari kerja. Atasan si karyawan langsung menyuruh karyawan itu pulang, hari itu juga. Entah mengapa, apakah karena di anggap tidak profesional. Padahal karyawan tersebut sudah menjelaskan bahwa, selama tiga hari dia tidak masuk itu karena sakit. Surat keterangan dokter pun di berikan sebagai bukti. Tapi semua itu sia-sia..😦

Dampak dari pengusiran itu adalah, terancam tidak di tunaikan nya hak si karyawan yang akan mengundurkan diri itu. Termasuk semua email dan PC kantor teman setia nya bekerja tidak dapat di akses. Sangat disayangkan, pengabdian beberapa waktu tidak di hargai. Adalah hal wajar, jika orang yang akan mengundurkan diri di izinkan untuk mengakses PC nya. Walau alasan penolakan mengakses PC, karena dikhawatirkan mengambil data penting milik perusahaan.😯

Ok, kalau alasan tersebut yang di utarakan untuk ex karyawan yang pindah ke perusahaan saingan (competitor). Tapi kalau pindah ke perusahaan BUMN atau perusahaan yang memiliki bisnis yang sangat berbeda dengan perusahaan sebelumnya. Alasan itu menjadi hal yang sangat tolol dan keterlaluan.

Kecewa, marah itu yang di rasakan oleh karyawan yang hendak mengundurkan diri. Karena emosi yang amat sangat, akhirnya karyawan wanita itu menangis. Sedih, mengapa semua menjadi sangat tragis. Atasan yang sudah di anggap sebagai pathner tandem dalam tiap pekerjaan, berubah menjadi monster yang amat menyeramkan. Di tambah lagi tidak adanya peraturan perusahaan yang dapat membantu posisinya. Untuk mendapatkan hak nya sebagai ex karyawan.

Pertanyaan nya adalah mengapa atasannya tidak mengunakan asas ‘praduga tidak bersalah?’ just for your info, atasan nya adalah seorang sarjana hukum dari PTN di Jakarta. Apakah emosi menyebabkan atasan itu melupakan logika?:mrgreen:

Pelajarannya adalah, pelajari secara seksama kontrak kerja. Sebelum anda menandatangani kontrak kerja anda.

buat DR, kami selalu mendukung mu kawan..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: