bumi milik siapa?

kepulan asap rokok keluar dari mulut lelaki itu. puff.. asap rokok yang keluar dari mulut nya seakan membantu meringankan beban pikiran nya.

pikirannya seakan terhenti, tubuhnya juga ikut lumpuh seakan membatu. hanya mulut dan tangannya saja yang mampu bekerja, tuk menghisap & mengeluarkan asap rokok.

di sekitarnya beberapa orang sedang mencoba untuk memebantu tim SAR dan polisi mengevakuasi korban yang tertimbun dan mendirikan tenda darurat.

pikiran lelaki itu melayang jauh, seakan merekam semua yang terjadi. seakan tak percaya dengan apa yang terjadi. kejadian itu begitu cepat dan singkat.

hanya dalam semalam, rumah yang selama ini ia banggakan rata dengan tanah. semua karena tanah longsor yang menimbun rumah nya. istri nya tidak sempat menyelamatkan diri, ikut tertimbun dengan tanah. sebenarnya lelaki itu tidak sendirian, beberapa warga juga menjadi korban. bahkan Pak Haji kehilangan seorang istri dan dua orang anak nya, selain rumahnya juga tertimbun tanah.

setelah lama terdiam, karena tidak tahu apa yang akan diperbuat. lelaki itu pun beranjak dari tempat duduk nya. mencoba menghampiri tenda pengungsi yang dibuat sementara oleh Pemda untuk korban bencana.

mata nya memandang kosong, sebenarnya ia lapar. karena perutnya belum di isi sejak semalam. karena bencana datang seakan tidak menunggu, usai adzan magrib berkumandang. tiba-tiba tanah yang ada di gunung itu meluncur deras. batu-batu dan tanah bertaburan menabrak semua yang ada di hadapannya.

pohon-pohon di hutan tidak mampu menahan laju nya tanah dan batu yang tergerus dan longsor. karena pohon, sudah tidak ada, semua nya lahan dan hutan gundul.

tadi pagi, kepala desa menjelaskan kepada semua penduduk yang menjadi korban. bahwa ini adalah musibah yang diakibatkan bencana alam. korban rumah ada sepuluh rumah, korban jiwa ada lima belas orang. posko korban bencana sudah di dirikan dan ada sebuah dapur umum untuk korban bencana.

pertanyaan timbul dari otak lelaki itu. mengapa kepala desa mengatakan ini adalah musibah bencana alam? bukankah tanah longsor itu disebabkan tidak adanya pohon-pohon di hutan sekitar kaki gunung. sekarang hutan tersebut gundul, tidak ada pohon yang tersisa. akibat penebangan liar para penebang kayu. memang beberapa penduduk kampungnya bekerja sebagai penebang kayu dihutan termasuk lelaki itu.

sebenarnya lelaki itu tahu, kalau menebang kayu di hutan secara liar akan menyebabkan ekosistem terganggu. bahkan beberapa penduduk telah menjadi buronan polisi hutan, karena sering menebang pohon secara besar-besaran dan ilegal. pendekatan dengan cara lain juga sudah dilakukan, oleh polisi hutan. termasuk memberikan pengarahan kepada penduduk untuk tidak merusak hutan.

namun semua upaya tersebut gagal, hingga akhirnya musibah itu terjadi. sebenarnya alasan klasik yang menyebabkan lelaki itu dan beberapa penduduk menjadi penebang liar. alasan ekonomi. mereka melakukan hal tersebut karena tergiur oleh janji cukong kayu, yang akan membayar tinggi setiap kayu yang mereka bisa tebang. maka berlomba-lomba lah lelaki itu dan penduduk kampung untuk rame-rame menggunduli hutan.

ternyata kegiatan itu harus mereka bayar sangat mahal. rumah mereka tertimbun tanah yang lonsor, beberapa keluarga ada yang meninggal.

mereka pun mulai sadar, kalau pekerjaan mereka menebang hutan sangat merugikan mereka. lelaki itu teringat kata-kata orang tua nya, bahwa “bumi adalah titipan anak cucu kita, bukan warisan nenek moyang kita”.

tugas kita adalah menjaga bumi ini, bukan merusak nya. karena suatu saat nanti anak cucu kita akan meminta hak nya atas bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: