nilai kenyamanan

berapa nilai kenyamanan? pertanyaan itu yang selalu menggantung di kepala gw. ketika gw mencoba mencari jawabannya, gw melihat banyak orang yang mengurangi nilai kenyamanan dengan berbagai alasan.

contohnya adalah orang yang berdesak-desakan naik kendaraan umum. tiap pagi gw menjadi bagian orang tolol, yang selalu menaiki bus yang sama dan selalu berdesak-desakan. memang tidak ada pilihan lain. kalau gw mau membawa mobil sendiri, mungkin gw gak perlu berdiri di pintu bus. tapi sekali lagi masalah klasik. ya, karena masalah keuangan.

kira-kira biaya yang gw keluarkan ketika membawa mobil ke kantor adalah seratus ribu rupiah. untuk sehari ke kantor menggunakan mobil pribadi. tapi kalau gw menggunakan kendaraan umum, biaya yang gw keluarkan adalah dua puluh lima ribu. seperempatnya, dari uang yang gw keluarkan ketika menggunakan kendaraan pribadi. jumlah yang sangat menggilurkan untuk di hemat pada zaman susah seperti sekarang.

ketika gw mulai bertanya kepada bapak gw tentang nilai kenyamanan. jawaban beliau, nilai kenyamanan adalah abstrak.

suatu jawaban yang membuat gw semakin ingin tertawa. kalau nilai kenyamanan abstrak berarti semua orang bebas menilai. tersenyum dalam duka, mungkin itu kalimat yang pas untuk menggambarkan jawaban dari bapak gw tadi.

kala kenyamanan di tanyakan kepada tukang sapu jalanan, apakah dia nyaman dengan pekerjaan nya yang sekarang? jawabannya pasti beragam. dari sisi gaji dan pekerjaannya, pasti ia akan menjawab. apakah ada pekerjaan lain dengan gaji yang lebih besar. tapi kalau ditanyakan apakah dia nyaman, dengan pekerjaan nya yang sekarang dibandingkan dia menganggur. pasti dia akan memilih tetap memiliki pekerjaan tersebut.

untuk pertanyaan tadi, gw setuju kalo kenyamanan itu abstarak. tapi bagaimana dengan impian si tukang sapu tersebut. dia pasti punya impian tentang kenyamanan versi dia sendiri. apakah itu nyaman dengan pekerjaannya, yang dia anggap mulia. atau nyaman karena merasa tidak menjadi beban pemerintah dalam memberantas pengangguran.

atau coba tanyakan kepada direktur utama perusahaan asing. apakah dia nyaman dengan kehidupannya saat ini. rumah bertingkat, mobil ber AC, supir pribadi, isteri cantik, anak-anak yang cerdas, gaji yang berlipat-lipat. mungkin buat gw, kehidupan yang seperti itu adalah seperti hidup di surga. tapi coba tanyakan kepada direktur tadi. apakah dia nyaman dengan hidup seperti itu?

jawabannya bisa seperti ini. ‘saya tidak nyaman dengan hidup seperti ini.’ tanya kenapa? karena, saya selalu di bayang-bayangi ketakutan akan, bagaimana saham perusahaan saya esok hari. bagaimana kalau karyawan saya eksodus ke perusahaan lain, atau bagaimana kalau esok saya meninggal. siapa yang akan mewarisi perusahaan ini?

akhirnya gw menemukan cara untuk menjawab pertanyaan tadi tentang nilai kenyamanan. caranya adalah cara berfikir sekarang dan disini. ditambah dengan menekankan bahwa letak kenyamanan itu ada di hati. ketika orang berfikir, disini dan sekarang. mereka akan melupakan sesaat tentang masa depan. kadang ketakutan terbesar manusia adalah sesuatu yang belum terjadi (masa depan).

seperti kata bapak direktur utama, bagaimana nasib perusahaan kalau saya meninggal nanti?. antisipasi nya adalah mempersiapkan rencana untuk segala kemungkinan. misalnya, takut pulang kantor kehujanan, antisipasinya adalah membawa payung. kalau merasa tidak nyaman menggunakan payung, bisa di ganti menggunakan mantel hujan.

tapi untuk kasus bus kota gw, itu emang gak ada pilihan kecuali memakai kendaraan pribadi dan mengajak kawan-kawan nebeng. dan membayar layaknya mereka naik kendaraan umum.

sebenarnya jawaban itu bukan buah pikiran gw sendiri, tapi gw baca dari sebuah buku. jujur gw lupa apa judulnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: