509..

Bulus,bulus,bulus…..

Mas, geser dikit ya, Mbak-mbak tolong ya, Pak, Bu tolong geser ya, masih kosong tuh..

Itulah kata-kata yang sering diteriakkan oleh kenek bus kota 509, tujuan Lebak Bulus – Kampung Rambutan. Kata-kata itu begitu lekat di telinga gw, karena gw termasuk orang yang sekarang “terpaksa” untuk menggunakan kendaraan umum tersebut dan gak mau ‘nurut’ kalau si kenek bus menyuruh gw untuk masuk lebih dalam.

Karena menurut gw dan hampir semua pengumpang bus kota tersebut, bus sudah penuh sesak dengan penumpang namun bus tak jua beranjak pergi. Akhirnya beberapa bapak-bapak mulai berteriak, ‘pir, jalan pir… udah penuh nih, oiiii pir…’, akhirnya si supir 509 memulai pekerjaannya.

Pekerjaan yang sebenarnya mulia, namun terkadang baik si supir atau penumpang bus tidak menyadarinya. Jika kita sadari betapa mulianya pekerjaan bapak supir 509 tersebut, misalkan bus 509 mogok untuk membawa penumpang. Apa yang terjadi? pasti banyak karyawan yang akan kesal, marah, kecewa (termasuk gw, yang pasti udah marah-marah) karena mogoknya bus tersebut. Mereka mungkin bisa terlambat sampai ke kantor, atau bahkan bisa tidak masuk ke kantor (pilihan terakhir ini emang cocok buat gw yang sering males ke kantor, hehehehe).

Namun kembali kepada bus 509, jika pemda membuat trayek baru tujuan lebak bulus atau bus way trayek baru kampung rambutan – pondok indah. Para supir 509 pasti akan mendemo trayek baru pemda tersebut, karena merasa sumber kehidupannya terancam hilang. Sebenarnya telah terjadi simbiosis mutualisme antara supir bus dengan penumpang bus, penumpang membutuhkan sarana transportasi dan supir bus membutuhkan penumpang. Namun yang terjadi terkadang supir bus dan kroni-kroninya sering mengabaikan kepentingan penumpang, penumpang telah memenuhi kepentingan supir bus, yaitu membayar bus sesuai tarif yaitu 2,500 perak.

Supir bus harus memenuhi kepentingan penumpang bus juga, yaitu memperhatikan keselamatan penumpang. mengapa gw mengedepankan keselamatan bukan kenyamanan, karena kecelakaan lalu lintas di jakarta cukup tinggi..

Menurut menteri perhubungan Hatta Rajasa, “detikcom – Jakarta, Kecelakaan lalu lintas merupakan pembunuh nomor 3 di Indonesia. Setiap tahunnya rata-rata 30.000 nyawa melayang di jalan raya.” apakah anda akan menjadi bagian dari angka tersebut?

buat semua supir bus kota, ingat nyawa penumpang ditangan anda…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: