ku hirup udara yang tersisa dengan sepenuh tenaga
mengisi relung paru-paru ku yang lusuh
nafas ku tersengal-sengal namun tetap ku paksa tuk bernafas
sesekali ku terbatuk karna paru-paru ku yang telah lusuh tak mampu mencerna udara yang kotor
bibir ku yang hitam dan kriput
seakan tak mau kompromi dengan paru-paru ku
tanpa henti bibir ku terus menghisap dalam-dalam ‘berhala kecil’ yang laknat
jari jemari ku terus memaksa ‘berhala kecil’ itu bertegger di antara dua bibir sexy ini.
kerjasama yang romantis namun bengis untuk paru-paru lusuh ku
emperan jalan menjadi tempat ku tuk bersandar
mata ku menatap kosong ke cakrawala sore jelang malam
entah berapa banyak ‘berhala kecil’ yang ku hisap sari pati nya sore itu
pikiran ku memang lagi kusut seperti benang yang semraut
terlalu banyak benang kusut yang bersarang di otak dan pikiran ku
ritual menghirup saripati ‘berhala’ selalu ku lakukan setiap sedang kusut
tak perduli berapa banyak potongan tubuh berhala terbuang setelah ku hisap saripati nya
tak perduli berapa keping pundi-pundi yang ku buang sia-sia
hanyak tuk menghirup ‘berhala kecil berapi’
jangan tanya apa usaha ku tuk mengisi perut ku yang melolong
menjaga ritual adalah tugas ku
keping-keping pundi yang ku kumpul hanya tuk ritual
menghirup berhala kecil bermahkota api
silahkan kau bilang aku bodoh tolol dungu
ku memang begitu